Pangeran itu ada
Aku masih duduk di dalam angkot yang penuh sesak dengan orang maupun barang disekitar, kakiku terhimpit dua orang yang berada di samping kiri dan depanku , aku meringis sambil mengguman pelan, sengaja untuk memberi kode bahwa kakiku benar-benar sakit saat itu. Mereka mengerti dan menggeser perlahan kaki mereka, namun tetap saja saking penuhnya penghuni angkot ditambah angkot yang masih tidak jalan upaya mereka sia-sia belaka. Ah saat itu rasanya ingin turun saja dan mencegat angkot lainnya, tapi aku tak benar-benar menginginkannya, menunggu lagi angkot yang datang rasanya lebih mengesalkan dibanding kaki yang terhimpit ini.