Pangeran itu ada



Aku masih duduk di dalam angkot yang penuh sesak dengan orang maupun barang disekitar, kakiku terhimpit dua orang yang berada di samping kiri dan depanku , aku meringis sambil mengguman pelan, sengaja untuk memberi kode bahwa kakiku benar-benar sakit saat itu. Mereka mengerti dan menggeser perlahan kaki mereka, namun tetap saja saking penuhnya penghuni angkot ditambah angkot yang masih tidak jalan upaya mereka sia-sia belaka. Ah saat itu rasanya ingin turun saja dan mencegat angkot lainnya, tapi aku tak benar-benar menginginkannya, menunggu lagi angkot yang datang rasanya lebih mengesalkan dibanding kaki yang terhimpit ini.


Saat itulah, ketika menahan nyeri kaki yang terhimpit, aku yang duduk dipojok belakang angkot mengalihkan perhatian ke jalanan dengan menyumpah serapahi angkot yang tidak kunjung jalan juga. Mukaku saat itu benar-benar penuh emosi dan tentu saja kusut sekusut-kusutnya. Coba saja ada pangeran datang memakai kuda putihnya menjemput dan mengantarkanku sampai kos. Andai saja...

Dia memakai sepeda putih sporty yang entah merek apa tapi pastilah bukan sepeda yang murah, aku tahu pasti itu. Berjaket biru dan memakai kaos merah menyala, serta celana pendek berwarna coklat selutut. Aku seakan berhalusinasi melihatnya berada persis dihadapanku, kenyataannya dia berada disebrang jalan dari angkot ini, duduk di jok sepedanya. Berhenti, diam dan sama sepertiku memandang jalanan dengan tatapan hampa. Aku ingin sekali bertanya pada tuhan saat itu “Tuhan, inikah pangeran yang kau kirimkan untukku?

Aku memperhatikannya lama sekali, dan rasa sakit di kaki karena terhimpit sudah tak terasa lagi. rasa emosi akan sopir angkot yang tak kujung menjalankan angkotnya hilang begitu saja. Detik itu aku malah berharap agar selamanya angkot tak beranjak dari tempat itu. Aku jatuh, dadaku berdetak cepat dan dengan kesadaranku aku ingin sekali menghampirinya, detik itu juga.

“apa yang sedang ia lakukan? Menunggu seseorang kah?” aku bertanya pada diriku sendiri. Berdiri dengan sepeda di pinggir jalan dan hanya menatap kendaraan yang silih berganti  lewat didepannya, dan tatapan itu, sejenis tatapan yang sering kulakukan. Ya benar, aku selalu menatap pada semua hal dengan tatapan itu ketika aku melamun. “Wah apa yang sedang ia lamunkan?” kembali aku bertanya dan aku benar-benar penasaran dengan jawaban pertanyaanku sendiri,  aku tidak mau mencoba menerka apa yang sedang ia pikirkan. Lebih dari itu, aku tak ingin kehilangan momen melihatnya selama mungkin sebelum angkot sialan ini beranjak. Aku ingin tinggal, aku ingin melihat wajahnya selama aku bisa, selamanya.

Aku belum mendeskripsikan seperti apa dia, memang tak ingin kudeskripsikan karena aku sendiri pasti tak akan mampu mendetailkan setiap keindahan dari dirinya. Aku tak akan mampu. Hanya saja, ketika melihat laku-laki yang tampan kau pasti akan melihatnya terus-menerus dan sudah, ketika ia berlalu ingatan tentangnya pun hilang. Tapi kali ini beda, aku melihatnya sekilas, lalu ingin melihatnya lagi, merekamnya di ingatanku, mensugesti diri sendiri untuk tidak melupakan keindahannya, dan mengulang ingatannya setiap waktu, selama aku mau, selama aku bisa, selamanya. Itulah dia.

Rasanya sebentar sekali saat tiba-tiba mesin mobil angkot tiba-tiba dinyalakan, aku panik. Aku tidak mau mobil busuk ini berjalan, aku tidak mau berpisah dari pangeranku. Aku tidak....

Benar kan ! dia memang pangeran yang sengaja di kirim Tuhan untuk mengalihkan rasa sakit dikakiku. Aku hanya sebatas menoleh pada sopir angkot yang hendak menjalankan mobilnya dan kembali melihat pada sosok manis bersepeda di sebrang jalan tersebut ketika jantungku tiba-tiba berhenti berdetak beberapa detik melihat pangeranku sudah tidak berada ditempat sebelumnya. Kusapukan pandanganku kesekeliling dengan panik, napasku menderu dengan cepat dan nihil ! sama sekali tak kudapati lelaki bersepeda itu berada. Aku menarik napas dan menghembuskannya perlahan, ada yang salah padaku, ketika tiba-tiba saja butiran hangat sudah mengalir membanjiri wajah dan membasahi kerudungku. Aku menangis, dalam kesesakan sebuah angkot yang berjalan perlahan meninggalkan sebuah tanya.


Malang, 20 Oktober 2013
 pangeran itu memang ada, aku melihatnya

Comments

  1. wow, ga sengaja tiba-tiba "terhempas" di blog kamu dan aku suka tulisanmu! makasih ya sudah menghibur!

    ReplyDelete

Post a Comment

Popular posts from this blog

Grow Old With You - Adam Sandler

Sycamore Tree

My Criminology Law's Lecture