Cerita Dari Tapal Batas : sebuah arti dari masyarakat perbatasan
Sebuah cerita harus dikatakanSebuah cerita harus di dengarkanSebuah cerita harus dituliskan
Sajak
pembuka sebuah film dokumenter berjudul “Cerita dari Tapal Batas” membuat saya
tersentuh, begitu menggelorakan jiwa saya ketika menontonnya. Sebuah karya anak
bangsa yang wajib di Apresiasikan dengan tinggi, wajib dicermati dengan
seksama, wajib dihayati dengan sempurna.
Film
karya Sutradara Wisnu Adi yang baru 5 menit yang lalu selesai saya tonton
sepertinya sudah menggeser film yang menjadi “my best favorite film”. Ya tentu
saja, selama ini saya hanya mencari hiburan semata dari menonton film. Tidak
membuat saya berpikir, merasakan dan membangkitkan semangat diri saya akan hal
yang urgent dilakukan oleh kita-sebagai orang Indonesia yang menjunjung
persaudaraan dengan semboyan Bhineka
Tunggal Ika- dari Film dokumenter ini.
Cerita dari Tapal Batas, cerita dari
masyarakat Indonesia di perbatasan...
Entikong,
sebuah wilayah di paling utara Indonesia yang seakan tak bertuan, secara
yuridis masuk dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Namun hanya
sampai batas yuridis saja wilayahnya diakui. kenyataannya? Pemerintah sama
sekali tak menjamah wilayah terpelosok tersebut.
Sungguh
miris melihat secara langsung potret wilayah perbatasan kita, wilayah perbatasan
Indonesia yang diagung-agungkan sebagai beranda negara, tak lebih dari sekedar
sebuah julukan.
Awal
film ini menceritakan seorang Martini, guru sekolah dasar di kabupaten Badat
Baru, kecamatan Entikong yang sehari-harinya mengajar demi sebuah harapan supaya
anak-anak memiliki ilmu yang nantinya kelak akan mengantarkan ke Cita-cita mereka. Mungkin Sangat sulit
bagi masyarakat sekarang khususnya yang tinggal di perkotaan bisa mengharapkan
anak-anak memiliki cita-cita dengan tinggal di tempat dengan pendidikan jauh
dari standar seperti di kebupaten Bandat Baru ini, namun mereka, anak-anak tak
pernah kehilangan semangat untuk belajar walaupun minim prasarana.
Sangat
salut dengan perjuangan seorang guru bernama Martini yang masih mau mengabdikan
diri pada bangsa dengan menularkan ilmu yang ia punya kepada anak-anak di
kecamatan Bandat Baru, Entikong. Semata-mata agar anak-anak mendapat pendidikan
“saya ingin menunjukan kepada mereka
(masyarakat) bahwasanya pemerintah itu masih memperdulikan mereka”.
Martini
bekerja sendiri pada sekolah, merangkap sebagai kepala sekolah, guru,
administrator dan pesuruh secara bersamaan dengan jumlah murid dari kelas 1
hingga kelas 6 sekitar 100 murid, memegang kendali atas semuanya setiap
harinya.
Sarana
pendidikan disana sangat miris kalau tidak bisa dikatakan mengenaskan, satu
bangunan memanjang dibuat sebagai ruang kelas yang terbagi menjadi tiga
ruangan. Papan tulis yang sudah patah, lantai kayu berlubang, meja kursi jauh
dari kapasitas dan kenyamanan. Seolah tak masalah bagi Martini, ia hanya
berharap muridnya mampu menyerap pelajaran dengan baik.
Wawasan
kebangsaan menjadi suatu pelajaran wajib setiap harinya, semata-mata untuk
mengingatkan kembali murid-muridnya mengenai identitas mereka, Warga Negara
Indonesia yang berbendera Merah Putih, berlagu Indonesia Raya dan bermata uang
Rupiah.
“Sejauh mana pemerintah mengerti
pendidikan salah satu jalan untuk merubah pemikiran bahwa mereka adalah
Indonesia, dan mengerti di batas mana mereka berdiri sekarang”
Namun
seolah tak bisa dielakkan, kemiskinan menjadi faktor utama yang menghambat
pendidikan anak-anak di Bandat Baru, mereka rata-rata bersekolah hanya sampai
SD saja, setelahnya bekerja mencari kayu atau bercocok tanam untuk mencari
pundi-pundi uang. SMP memang tidak ada di Bandat Baru, hanya ada di kecamatan
Entikong yang memakan waktu 12 jam untuk perjalanan. Akhirnya masyarakatpun tak
hanya miskin harta, namun juga miskin akan harapan. Harapan untuk sekolah.
Realita tak pernah berbicara, namun
selalu berwujud bukti...
Masyarakat
cenderung apatis dengan pemerintahan sendiri, memang bukan salah mereka karena
selama ini memang pemerintah yang lebih dulu bersikap apatis terhadap
masyarakat Entikong. Tak ada bantuan dari pemerintah yang masuk sampai ke
wilayah ini, bahkan listrik yang menjadi kebutuhan vital belum pernah masuk ke
daerah ini. Alhasil masyarakat tak lagi menganggap ada pemerintah, mereka hanya
menggantungkan pada kemampuan mereka, melakukan sebisa mereka . Sungguh
miris...
Kusnadi
salah satu tokoh yang masih rela mengorbankan diri menjadi mantri kesehatan di
Kabupaten Bandat Baru. Ya, hanya dia sattu-satunya.. setiap harinya kusnadi
berjalan melewati sungai mendaki gunung untuk memberikan obat bagi masyarakat
yang sakit. Hal tersebut dilakukannya setiap hari semata-mata agar masyarakat
bisa memperoleh fasilitas kesehatan dengan memadai. Sejauh yang kusnadi mampu.
Bicara Nasionalisme, mereka telah
melakukannya lewat kerja dengan cara mereka sendiri.
di Entikong, simbol-simbol negara
jadi tak ada artinya
pun arti negara hanya sebuah ungkapan
saja...
Malaysia
yang menjadi negara terdekat mereka seakan menjadi harapan baru bagi masyarakat
Entikong untuk mencari kesejahteraan hidup. Mereka berbondong-bondong mencari
lapangan pekerjaan ke Malaysia dengan pemerintah mereka yang menyambut dengan
hangat, tak jarang banyak yang berganti Kewarganegaraan Malaysia karena sudah
nyaman dengan kehidupan yang menjanjikan.
Jauhnya kekuasaan dan dekatnya
kemiskinan membuat mereka tak ada pilihan
Berganti
menjadi WN Malaysia bukan hal yang memberatkan lagi bagi masyarakat Entikong,
mereka mengerti batas negara hanya sebagai ungkapan saja itupun sosial, budaya
bahkan ekonomi jauh melebihi dari arti yang sebenarnya.
Siapa
sudi hidup dalam kemiskinan di daerah terpencil ?
Ya,
memang masalah perbatasan ini seharusnya sudah dari lama diangkat, agar
mereka-mereka yang tengah duduk manis di kursi kekuasaan melihat dengan jelas
potret masyarakatnya yang tak pernah mereka sentuh, yang lebih memilih untuk
menggantungkan hidup pada negara lain.
Masihkan
pemerintah peduli? Masihkah pemerintah mempunyai malu? Ini kita, sebuah bangsa
dengan semboyan Bhineka Tunggal Ika.
“Orang bilang tanah kita tanah surgaTongkat kayu dan batu jadi tanaman”
![]() |
| Ironis,Mengajar dengan sarana yang jauh dari standar |
![]() |
| Badat Baru,desa yang berbatasan langsung dengan Malaysia |
![]() |
| "Saya ingin anak-anak punya ilmu ! " |
![]() |
| Rupiah ? saya tidak mengenalnya |
![]() |
| Martini,Sosok teladan seorang guru |
![]() |
| Bendera hanya sebuah lambang di perbatasan |
![]() |
| ini yang namanya IRONIS |
![]() |
| ada yang sudi? |
![]() |
| salah siapa? |










Comments
Post a Comment