Kejayaan kala itu. . .



Pagi ini aku terbangun dengan perasaan adem di dada, langsung keluar rumah  dan terpesona akan keelokan warna langit yang “dark blue” maklum saat itu cuaca agak mendung. Langsung kuambil camera pocket dikamar dan kubidik warna langit mendung surabaya pagi itu. Sisa hujan dini hari tadi terasa menusuk kakiku yang telanjang, aroma tanah yang terkena hujan memang luar biasa. Membuat rindu akan datangnya hujan.
Mendung langit pagi surabaya


Masih bertelanjang kaki, aku menyusuri jalanan depan rumah yang masih lengang karena jam masih menunjukan pukul 5 pagi, belum banyak aktifitas terjadi. Maklum kompleks perumahan, tidak seperti kampung yang setelah subuh sudah hiruk pikuk masyarakatnya. Aku berjalan mondar-mandir hanya untuk memuaskan hidungku menghirup udara pagi yang walaupun tidak pure tapi cukup menyegarkan kalbu.

Langit mendung pagi itu memberikan suasana yang melankolis, dan aku sungguh menikmatinya...

Pukul 7 saat tengah khusyuk melihat kartun di Tv, Hp ku bergetar menandakan adanya sms. Tak kuhiraukan Hp itu dan tetap terlena acara Tv yang mengasyikkan hari minggu ini dimana film-film anak-anak mendominasi pagi yang mendung itu.

Iklan datang baru kuambil Hp yang sudah hampir 3 tahun menemaniku, sebuah sms dari mantan pelatih PMR ku.

“SMADA di Jumbara cabang tidak membawa pulang piala apapun. Payah”

Kurang lebih seperti itu bunyi sms beliau, SMADA adalah nama SMA ku, SMA N 2 Magelang. Kubaca berulang-ulang sms itu sampai akhirnya aku ngeh dengan pesan singkat itu. Deg. Jantungku serasa dipukul palu gada berton-ton beratnya. Ya Tuhan, ini merupakan berita buruk bagiku. Bagaimana tidak, dua tahun sebelumnya aku dan teman-teman setimku ikut kompetisi yang sama dan berhasil membawa 5 piala dengan Juara Favorite salah satunya. Dan dengan kabar buruk tadi membuatku berpikir bahwa “saya gagal memertahankan kejayaan PMR saya”.

Ah teringat bagaimana usaha tim kami dulu membawa 5 piala ke sekolah...

Jumbara Cabang adalah kompetisi bagi PMR Wira maupun Madya se Kota. Kompetisi ini cukup bergengsi bagi para penggiat PMR, diadakan 2 tahun sekali. Berbagai keahlian seputar Ke-Palang Merahan akan di uji di kompetisi ini. Aku salah satu yang bersemangat mengikuti event ini, posisiku saat duduk dibangku kelas 11 membuat keinginanku menjadi tanpa kendala.

Aku bersama timku berjumlah 10 orang. Ani, Ridha, Monica, Memey, Ririn, Vira, Ikafish, Elina, dan Icha. Kami saat itu sangat bersemangat dengan latihan-latihan untuk menghadapi event yang menjadi pijakan untuk event PMR lebih tinggi lagi. di dorong juga keinginan kami untuk menorehkan pestasi lebih dari kakak kelas sebelumnya yang telah sukses membawa 3 Piala.

 Hampir setiap hari setelah selesai pelajaran, kami langsung berlatih hal-hal yang akan dilombakan. Dibimbing pelatih kami yang cukup keras membuat kami tak main-main, walaupun sesekali latian digunakan sebagai wadah nggosip saat tak ada pelatih. Tapi keinginan kami satu ! membawa nama baik SMADA tercinta.

Sampai akhirnya 5 piala dapat kami raih, membuat kami tak berhenti bersyukur. Apalagi kami mendapat Piala Juara Favorite dimana piala tersebut merupakan piala yang diincar oleh semua Tim peserta Jumbara. Wah betapa bangganya kami saat itu, piala itu juga merupakan piala terbesar yang ada.

Kerja keras kami terbayar sudah, penyerahan piala ke Sekolah pada saat upacara senin pagi tak ayal membuat sejarah yang tak terlupakan bagi kami semua. Bangga. Ya bangga pada diri kami sendiri. Bangga bisa memberikan yang terbaik bagi Sekolah tercinta. Bangga saat Kepala sekolah menyalami kami dengan kata “Selamat” dan senyum lebarnya satu persatu untuk kami.

Ah ingin rasanya kembali ke masa itu...

Sampai kami kelas 12, kami masih mengabdikan diri pada PMR dengan memberikan sedikit ilmu yang kami dapat pada adik-adik kelas kami. Memberikan sedikit motivasi, agar mereka bisa lebih baik dari kami. Bisa lebih mengibarkan PMR SMADA di event bergengsi.

Namun saat pagi tadi sms itu datang, hatiku terasa hancur. Aku marah pada diri sendiri. Aku malu pada diri senidiri. Pantaskah aku ini disebut PMR sejati? Bahkan sedikit ilmu yang kupunyapun seakan tak berguna tatkala mendengar kekalahan adikku sendiri. Aku merasa tak berguna sebagai kakak-kakak merekan, aku merasa tak mengajarkan apapun pada mereka pun seharusnya. Aku merasa berdosa.

Maafkan aku dan teman-temanku adikku, kejayaan kala itu hanya kami miliki sendiri, hanya kami genggang sendiri.

Namun jalan kalian masih panjang, bergegas perbaiki apa yang rusak, bangkit dan semangatlah adikku. Kakakmu mendoakanmu sepanjang waktu.
Hasil kerja keras kami
Tim penuh dengan kekompakan
 
Aku,Monica,Ani,Icha.Para punggawa PMR SMADA



     
berpose dengan kemenangan

Anggota PMR SMADA :)

Comments

Popular posts from this blog

Grow Old With You - Adam Sandler

Sycamore Tree

My Criminology Law's Lecture