seterusnya Malas . . .



Biasanya rasa malas emang datang tanpa diundang, udah mirip kuntilanak. Tau-tau muncul gitu aja, jangankan dicegah malah kadang sendirinya menikmati kemalasan itu. Nice intro. Aku lagi ga mau bahas tentang kemalasan atau malas atau kawan-kawannya yang ga asik banget itu. Aku mau bahas tentang kamu. Iya kamu. Terutama rasa malasku ke kamu.
*                     *                             *
Aku ga yakin dengan umur perkenalan kita. Entah sudah tiga atau empat tahun yang lalu kita kenal. Saat aku kelas 2 SMA kalau tak salah. First impression tentang kamu adalah buruk. Kamu perokok, cuek, tak peduli hal disekitarmu dan yang fatal kamu adalah seorang yang tak beragama sama denganku. Aku suka tipikal Badboy. Lebih ada challenge kata orang. Tapi kesan Badboy mu sama sekali ga menarik buatku. Setidaknya pertama kali kita bertemu.

Aku gatau kalau kamu itu beda agama denganku. Yah ini jaman modern memang yang sebuah ikatan ga melulu melihat perbedaan agama. Persetan barangkali orang menyebut. Toh, ini masa muda, hubungan yang dibawa have fun saja. Tak usah bermimpi sampai pelaminan. Aih gatal.

Tapi bagiku beda. Sungguh. Perbedaan itu semakin membuatku tak tertarik denganmu. Kuanggap kamu sebagai teman-teman lelaki yang lain. Biasa. Tidak spesial. Saat itu kalau tak salah aku malah menyukai salah satu teman baikmu, Anak Gunung aku menyebutnya. Seorang yang senang mendaki gunung. Sangat keren dan berkharisma, terlebih saat itu dia sudah kuliah. Dan cewek SMA entah benar atau tidak, suka dengan anak kuliah. Terlihat lebih dewasa katanya. Aku? Mungkin juga berfikir seperti itu. Entahlah. Abu-abu.

Entah keberuntungan atau tidak aku mendapat kesempatan lebih dekat dengan si Anak Gunung, bahagia. Tentu saja. Hanya saja kedekatan ini bukan yang kuidamkan, bukan yang selalu kubayangkan menjelang tidur. Kedekatan ini tidak spesial. Aku merasakannya. Sangat. Ternyata si Anak Gunung ini semakin aku mengenalnya semakin terasa biasa bagiku. Tidak lagi spesial.

Aku mulai jaga jarak. Mulai tidak menghiraukan semua pesan maupun panggilan darinya. Kenyataannya hubunganku dan Anak gunung yang belum sempat dimulai pun sudah gagal. Aku tidak kecewa. Sungguh. Malahan aku sedikit bersyukur, saat itu aku kelas 2 SMA dan si Anak Gunung mahasiswa. Aku berfikir sebenarnya sosok mahasiswa yang sangat charming di mata anak SMA lah yang membuatku meneruskan. Sungguh naif. Bukan, lebih tepatnya tolol.

Kamu datang disaat yang sangat tidak pas. Sangat sangat sangat ! dan serta merta membuatku membenci dirimu. Segalanya yang sudah kubenci darimu menjadi lebih berapi-api, menjadi berlebih-lebihan. Dan memang yang berlebihan itu tidak baik. Dan memang peribahasa antara benci dan cinta sangat tipis mungkin benar. Mungkin juga hanya terjadi padaku.

Aku malah semakin menaruh rasa dan perhatian ke kamu. Rasa benci tentu saja, dan tidak bisa serta merta memudar, hilang apalagi. Kamu menikmati bukan perhatian itu? Tampaknya memang sudah ditakdirkan begitu. Aku dan kamu dengan ikatan yang bukan berasal dari kebaikan. Tapi, jujur saja ini pertama kali bagiku dan aku begitu menikmatinya. Ada rasa yang tak biasa...

Singkat saja rasa benci itu berubah, karena aku nampaknya memang terkena virus romansa masa muda yang penuh warna merah muda. Dan kamu seharusnya mengetahui itu. Bukankah aku selalu menyinggungnya di setiap pesan. Sejengkal dalam hidupku berubah, karena aku semakin sering befikir tentang kamu. Tentang kita. Disaat yang tidak tepat. Dan seterusnya tidak tepat.

Semakin mengenalmu memang seakan sedang berada di arena balap motor dengan seratus rival dikanan kiri. Begitu mencengangkan. Menantang. Setiap hal yang kutahu tentang dirimu memberikan ekspresi tersendiri di hidupku. Dan aku menyukainya, seringnya tidak. Kamu disaat tidak tepat memang telah merebut hatiku, lebih dan lebih dibanding kesanku terhadap anak Gunung.

Aku berbicara malas. Ada saatnya memang aku sangat malas terhadapmu. Terhadap tingkah lakumu. Sifatmu. Pikiran-pikiran dangkalmu. Omonganmu. Dan semua-semua tentang kamu. Sering rasa malas itu datang, dan aku selalu takut untuk menghadapinya. Aku takut rasa malas ke kamu datang, sebab aku akan kewalahan untuk mengusirnya. Sebab aku tak mampu membiarkannya pergi. Dan aku benci perasaan itu.

Kita. Aku dan kamu sudah berbeda dari sejak dilahirkan. Pun sampai kita meninggal akan selalu ada perbedaan itu. Tapi aku benci harus berbeda, aku benci harus bertengkar untuk perbedaan. Dan aku benci kamu melulu menyalahkan aku untuk tidak mengerti pikiranmu.

Aku malas ! kamu selalu serta merta menganggapku kekanakan. Kenyataannya bahkan kamu selalu menghindar untuk diajak bicara serius. Kamu selalu berfikir aku menentang segala omonganmu. Ya memang, karena aku punya otak. Dan aku selalu berfikir terlebih dahulu sebelum berucap. Dan dengan kesombonganmu kamu menertawakanku atas segala pikiran dan omonganku yang kau pikir mengada-ada untuk seusia anak SMA. Oh sungguh lucu.

Aku malas memang dengan segala kekonyolan hubungan kita ini. Tapi aku juga tidak sanggup memutusnya. benang itu terlihat nyata dan tebal, aku takut sakit saat memutuskannya. Dan kuputuskan aku hanya sekadar malas, malas yang berkepanjangan dan tetap menjadi malas dan sampai nanti hanya akan menjadi malas.

Karena kamu istimewa. Spesial. Tidak ada duanya. Maka aku hanya bisa malas denganmu. Tidak pernah lebih. Karena pun awalnya aku menghendaki hubungan seperti ini. Aku hanya bisa malas. Malas dan seterusnya malas terhadapmu. Aku tak mau mengulang benci, muak, dsb. Akan sangat mengganggu.

Pada akhirnya aku masih malas terhadapmu.

Comments

Popular posts from this blog

Grow Old With You - Adam Sandler

Sycamore Tree

My Criminology Law's Lecture