berburuk

Mbak?
Apa?
Aku masih boleh manggil kamu “mbak” kan? Aku masih adikmu kan?

Aku pernah merasa sakit hati, sakit yang begitu dalamnya. Hingga rasanya hati ini hancur tak berbentuk lagi. karena rasa sakit itu membuatku menangis di dalam bus yang bergerak secara perlahan meninggalkan sedikit kesenangan dari jalan.

Sejam sebelumnya aku bahagia, sedikit waktu bersua bersama mama begitu berharga. Tak kuhiraukan ajakan teman-teman untuk ngemall dan sebagainya, sudah jika dirumah cukup bersama mama saja. Sedikit waktuku yang berharga selalu menjadi saat-saat menghidupkan hidup antara aku dan mama.

Pulang untuk kembali melaksanakan kewajiban adalah keharusan, yang berarti harus berpisah dengan mama tercinta, sedih tidak namun enggan berpisah terlalu lama. Kejenuhan akan rutinitas yang sama setiap harinya di kota orang terasa begitu menyebalkan. Apalagi hiburan yang bisa dicari dari kota yang tak berinovasi?

Sampai diterminal adalah hal menyebalkan kedua, aku tak suka dengan suasananya. Ramai,sumpek,banyak asap rokok,banyak preman,pengemis,kondektur dan sopir dengan muka seram,bising,mata-mata jalang, asap knalpot hitam,bau keringat,tangan-tangan nakal. Ah... begitu banyaknya hal yang tak kusuka di tempat umum macam terminal. Aku sering melihat film baik western maupun asian,namun sejauh kuamati tempat umum macam terminal di negara mereka tidaklah seburuk di Indonesia , ini mengherankan sungguh.

Bus ekonomi adalah terburuk, aku pernah naik beberapa bus ekonomi, seringnya saat akan pulang kerumah karena yah isi dompet  yang mengharuskanku naik bus ekonomi. Satu kali fine karena saat itu dapat bus yang yah not bad lah, masih ada AC nya. Yang kedua sempet mau pingsan gara-gara bau yang ga ngerti apakah percampuran antara bau keringat orang, bau durian, asap rokok yang melambai-lambai diudara, dan parahnya ga ada AC men ! belum lagi jendela gabisa dibuka. Pingsan kayaknya udah bukan pilihan lagi tapi keharusan ! tapi aku mikir dong ya kalo pingsan di bus busuk ini bakal tambah berabe kan akunya.. ditahan-tahanin deh selama 2,5 jam dengan dada udah hampir sesek ragara  idung disumpel pake handuk. Dan yang ketiga means the last rasanya mau matii...

Aku mempunyai cita-cita. Banyak dan tinggi semua, serasa tak mau melewatkan pepatah “mimpilah setinggi bintang”, semua mimpiku adalah bintang. Meskipun keberadaanku masih di bumi, di jalan yang retak beraspal dan sedikit sulit menengok bintang namun bukan menjadi plang silang untuk melempar tali perjuangan meraih bintang-bintang itu. Tidak tinggi kok, mudah-mudahan gunung menjadi jembatan mengambil bintang-bintang itu, sekarang aku hanya butuh mengumpulkan tali sepanjang mungkin untuk meraih bintang-bintang yang serasa berada di depan mata. Oh tentu saja aku juga harus belajar mendaki gunung untuk meraih bintangku. Hmm, tidak sulit tapi butuh proses yang keras. Tapi apasih yang manusia tidak bisa?

“kamu mau jadi professor aku gapeduli ! jangan campuri urusan saya”

Aku belum berfikir untuk menjadi professor, tidak saat ini. Khas wanita sederhana memang, pendidikan S2 kupikir cukup untuk bekal masa depan, disamping menghabiskan waktu walaupun sangat bermanfaat aku cenderung tidak begitu suka belajar secara formal yang melulu menghadiri kelas. Belajar kumaknai sebagai hal yang setiap hari saya lakukan, saya lihat, saya dengar, saya alami. Tidak lagi seprimitif guru-siswa.

Adekku mungkin sebegitu benci denganku. Tidak, kupikir lebih ke tidak peduli padaku. Walaupun kami sangat dekat, aku menganggapnya sebagai adik karena itu aku marah saat dia melakukan kesalahan, aku sedih saat dia kesusahan dan aku bahagia saat dia mendapat kesenangan. Namun tidak bagi adikku, aku baginya hanya sebuah status yang bernama “Mbak”, alih-alih ada perasaan padaku, semua tentangku saja enggan baginya untuk megetahui. Sekadar tahu “Mbak” nya masih hidup sudah cukup, segala hal remeh-temeh tentangku bukan hal yang perlu diketahui. Sebodo amat !

Sampai aku memarahinya untuk sebuah peristiwa memalukan yang ia buat, membuat murka adekku yang kala itu masih berada di lingkaran kesenangan yang berlebih khas remaja. Seolah kesenangannya ku obrak-abrik, rasa tidak terima bergejolak dalam dirinya. Segala amarah, umpatan, sumpah serapah, caci maki dia dedikasikan kepada “Mbak”nya yang sudah mencampuri hal vital kehidupannya. Ia tidak suka, terlebih aku yang melakukannya.

Keluarga seperti apa ini !

“tidak usah anggap aku adikmu, kau juga sudah lama tak kuanggap sebagai kakakku.. Aih, bahkan tenggorokanku serasa digorok menyebutmu sebagai “Mbak”! ”

Aku ini bukan manusia yang suci, bukan manusia yang pintar terlebih pribadi baik. Banyak kekurangan yang seakan lebih menonjol dibanding kebaikanku sendiri. Bangga? Tentu tidak. Aku lebih bangga karena saat itu aku lebih banyak beristighfar dibanding memaki balik adikku yang mempesona itu.

“yasudah kalau itu maumu, anggap saja kita bukan keluarga. Jangan tegur saya saat kita berjumpa, buanglah muka dan menjauhlah dariku segera, sampai kita benar-benar terlihat sebagai orang yang tak saling mengenal ”

Aku menangis disepanjang kepulanganku ke Malang.dalam bus yang bergerak lambat menunggu keringnya bulir air dipipiku.Ini sebuah kisah piluku, pertama kali kubertanya arti sebuah keluarga. Bukan semata-mata sebuah ikatan saja, ah sudahlah...bagiku hanya mama seorang keluarga sesungguhnya bagiku.

berada di ikatan yang sama itu SULIT

Comments

Popular posts from this blog

Grow Old With You - Adam Sandler

Sycamore Tree

My Criminology Law's Lecture