Hiruk Pikuk
Aku ini manusia yang mudah iri dengan kebahagiaan orang lain.
Heran !
Walau tidak serta-merta menampakan ke-iri-anku pada
mereka-mereka yang membuatku iri, dan malah memendamnya dalam hati seperti
sebuat jarum yang tersimpan lama hingga karatan. Membusuk dan hilang dengan
sendirinya.
“kenapa bukan aku? ” hal yang sangat-sangat kekanakan itu
sering terlintas dalam pikiranku saat melihat orang lain mendapatkan apa yang
kuinginkan pula. Dan tentu saja hanya bisa merutuki nasibku. Oh men, aku bahkan
menyebutnya sebagai “nasib”.
Pemalas. Orangtua ku sampai menyebutku seorang pemalas. Yah aku
sangat-sangat menerima penilaiannya. Bukan dua tiga orang yang mengatakannya.
10 atau lebih ? maybe..
Kenyataannya rasa malas itu seakan sudah menjadi bagian dari
diriku. Bagian yang hidup sehari-hari, berjalan seiring waktu membuatnya
menjadi sebuah rutinitas dalam kejaran detik detik berbunyi itu. Ahh kesal
membayangkan dirimu sebagai seorang pemalas. Tentu saja !
Semua orang dengan antusiasme yang tinggi selalu ingin
melihat dunia luar. Yang atapnya biru putih bagaikan kapas berhamburan di kain
fanel biru muda. Warna yang sangat menenangkan. Pengemis pun walau memang
nyawanya dijalan meminta-minta tapi tak terlihat keengganannya saat melihat
dunia luar ini. Walau pohon jarang kutemui, rasanya mengada-ada untuk malas
keluar hanya karena pancaran hangat matahari yang ceria. Ah tipikal orang
pemalas memang.
Aku selalu bermimpi melihat dunia luar. Yang ada dibawah
langit biru dan awan putih, yang berjajar pohon sycamore menghembuskan tiupan
mesranya, yang melewati jalan aspal abu-abu berasap dari tiap lubang kecilnya. Setiap
kali mengingat dan melihat gerakan gordyn maju-mundur beriak terkena angin
hatiku seperti tenangnya danau dengan pemandangan hijau dan percikan api tungku
yang sedang membakar kayu hutan dipinggir danau. Gunung tertinggi yang
puncaknya tak terlihat dan hanya membisikkan suasana dingin dan mistis. Beberapa
kali aku memimpikan datang dan berbaring di kayu oak dekat dengan danau, seraya
merasakan dekapan mistis dari gunung itu.
“bisakah aku tinggal beberapa lama lagi” bisikku pada angin
yang sempat mampir untuk memberikan pelukan.
“dengan senang hati nona” angin kembali membawa pesan itu
untuk sel-sel cantik di gunung bersalju. “jangan lupa untuk tetap kenakan
mantelmu,akan tetap dingin disini” lanjut angin berkedip mesra.
Tersenyumlah aku kala itu, menghampiri tungku mencoba untuk
menghangatkan diri meski air di danau berkata lantang semuanya akan tetap
hangat seperti musim panas yang telah lewat.
Dunia imajinasi dan dunia nyata sudah bukan hal yang berbeda
lagi. seorang pria manis menyampaikannya di film yang baru kutonton. Kalau aku
boleh memilih, rasanya akan sengat menyenangkan bisa selalu pergi ke
tempat-tempat menakjubkan hanya dengan tidur. Tiidur yang sangat panjang yang
bahkan aku sendiri sangsi untuk tahu kapan harus bangun. Aku tak ingin hanya
tidur ataupun sekedar memejamkan mata. Aku ingin sebuah gejolak nyata saat aku
berpindah dari tempat ini ke tempat yang lain. Gejolak yang membangunkan rasa
capek, senang, sedih, panik, khawatir, putus asa, depresi dengan ekspresi
nyata. Yang saat kita menepuk pipi, kita akan merasakan sakitnya.
Aku berfikir akan sangat mudah untuk
berpindah-pindah menyusuri karakteristik dari tempat ke tempat ketika kita
punya Uang. Akan membuatmu sangat sangat mudah melakukannya, dengan atau tanpa
imajinasi. Apa bagusnya Imajinasi hey ? apa berharganya sebuah mimpi ? semua
itu hanya kau dapatkan di buku-buku dongeng yang sudah kadaluarsa di toko buku,
tak lagi ada yang menyentuhnya.
Uang. Ya hanya uang yang kau butuhkan.
Tapi didunia yang serba tak pasti ini keberadaan uang hampir melebihi Tuhan. Lebih
diagung-agungkan, sering disembah kegunaannya dibanding Dia yang menciptakan
kita. Bukankah keterlaluan kita hidup di dunia ini? Masih saja membayangkan
hal-hal diluar kenyataan ! Ironis ! Tragis. Rasanya lebih berharga mati saja
ketimbang menjadi sel yang hidup seperti itu.
Ketika senja datang, apa yang kau
lakukan? Aku akan mengutuki waktu yang bergerak amat sangat lambat ini dan
membiarkan perut yang keroncongan terisi seteguk air dunia yang dingin tanpa
rasa. Bayangan orange gelap saat itu, kulihat sebagai monster yang siap
melahapmu dibawah selimut tipis itu. Bukan tak mungkin kau akan dibawa ke
kerajaannya dan dijadikan tongseng bersama tangkapannya yang lain. Dan saat itu
kau akan menyadari betapa sebenarnya hidupmu adalah hidup yang teramat singkat
dan tidak menjanjikan apapun. Hidupmu hanya sebuah lapangan luas dengan hal-hal
fana yang tak bisa kaugapai. Yang hanya terlihat menjanjikan tanpa adanya benih
realita di dalamnya.
Kugunakan waktuku sebagai pemalas
bukan semata-mata untuk menghilangkan pencitraan itu. Biarlah segala sesuatu
menjadi begitu Arogan tanpa aturan, biarlah semua binatang berbicara tanpa
adanya tekanan. Semua itu haruslah mengalir, bagai air. Mengalir mengalir
mengalir dan terus mengalir hingga air melihat ada ember besar yang siap
menampungnya bersama kawan-kawan seperjuangannya.
Malang, 07 Juli 2013
Suatu senja yang belum menampakan
wujudnya
![]() |
| Emerald lake, Tahiti |

Comments
Post a Comment